Reverse Zoonosis: Penularan Penyakit pada Hewan oleh Manusia

Reverse Zoonosis: Penularan Penyakit pada Hewan oleh Manusia

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang zoonosis, yaitu penyakit yang bisa ditularkan diantara hewan dan manusia. Tapi pada kebanyakan sumber atau artikel, pembahasan zoonosis lebih banyak pada penyakit yang ditularkan oleh hewan pada manusia. Ini kerena penularan itu memang lebih sering terjadi. Dimana hewan menjadi carrier (pembawa/penyebar) penyakit tersebut.

Tapi pada kenyataannya, ternyata bukan hanya hewan yang bisa menularkan penyakit pada manusia, tapi sebaliknya manusia pun bisa menularkan penyakit tertentu pada beberapa jenis hewan terutama hewan peliharaan. Kenyataan ini memang jarang terjadi, artinya jarang sekali manusia menularkan penyakitnya pada hewan. Tetapi bukan tidak mungkin, karena beberapa bukti telah menunjukkan fenomena tersebut.

Dalam dunia medis, penularan infeksi penyakit dari manusia pada hewan disebut dengan reverse zoonosis. Keadaan ini bisa terjadi apabila penyakit menular yang diderita tidak kunjung diobati, jadi selain beresiko menular pada sesama manusia juga bisa beresiko menular pada hewan peliharaan.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Seperti diketahui, bahwa penyakit yang menyerang pada manusia kebanyakan disebabkan oleh infeksi jamur, parasit, bakteri dan virus. Penularan penyakit yang disebabkan patogen tersebut bisa melalui kontak langsung atau tidak langsung, seperti lewat udara atau partikel cairan yang keluar dari tubuh, semisal darah, ludah, dahak, air liur, air kencing dan feses. Oleh karena itu, dianjurkan bagi penderita untuk tidak mengeluarkan cairan tubuhnya secara sembarangan, seperti meludah, kencing dan lain sebagainya.

Ketika interaksi terjadi, bisa saja bibit penyakit berpindah pada hewan tersebut. Oleh karenanya, reverse zoonosis tidak hanya terjadi di dalam rumah. Pada tempat-tempat konsentrasi hewan pun bisa terjadi, seperti tempat penangkaran hewan, tempat adopsi hewan, kabun bintang atau taman margasatwa.

Dilansir dari The Telegraph, terjadinya reverse zoonosis berdasarkan laporan dan dokumentasi yang telah ada, disebabkan 38% oleh bakteri, 28% virus, 21% parasit, dan 13% jamur. Ini terjadi meliputi pada satwa liar, hewan ternak serta hewan peliharaan. Adapun jenis penyakitnya, 8 diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kurap (ringworm)
Kurap atau dermatofitosis adalah infeksi pada kulit yang menyerang manusia dan juga hewan. Terlepas dari namanya (ringworm), kurap disebabkan oleh jamur, bukan parasit atau cacing. Pada manusia, itu menyebabkan area kemerahan yang bundar (diameter 1-2 cm) yang menyebabkan rasa gatal. 

Pada anjing dan kucing, hal itu dapat menyebabkan bercak kebotakan yang umumnya berbentuk bundar kemerahan dengan kerak didalamnya. Kurap bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi (manusia atau hewan) serta melalui benda yang terkontaminasi seperti sikat, pakaian atau handuk. 

Apabila hewan peliharaan kita terserang atau tertular kurap, pengobatan harus cepat dilakukan. Kita bisa mengobatinya dengan biodin. Biodin adalah obat kulit hewan dari bahan herbal yang ampuh untuk mengobati kurap dan gangguan penyakit kulit lainnya, seperti luka, borok, kudis dan lain sebagainya.

Kurap mungkin adalah penyakit menular diantara manusia dan hewan yang paling umum. Oleh karenanya, perlu penanganan secepatnya agar tidak terjadi penularan pada yang lain.

2. Influenza
Pada tahun 2009 di Oregon, diketahui terjadi penularan pandemi (wabah yang meluas) flu H1N1 dari manusia ke kucing. Kejadian ini berawal ketika si pemilik kucing sakit parah akibat flu dan harus dirawat di rumah sakit. Disaat yang sama, kucing peliharaannya tiba-tiba mati dikarenakan pneumonia yang disebabkan infeksi H1N1.

Sejak itu, banyak hewan yang diidentifikasikan terinfeksi pandemi H1N1 yang tampaknya berasal dari manusia seperti kucing, anjing bahkan musang. Tanda-tanda penyakitnya juga mirip dengan yang terlihat pada manusia, yaitu penyakit pernapasan berupa kesulitan bernafas dan berakibat kematian.

3. Gondong
Gondong adalah penyakit virus yang disebabkan paramyxovirus. Penyakit ini bisa menyebabkan demam dan sakit kepala pada manusia. Biasanya akan diikuti pembengkakan dan nyeri pada kelenjar liur parotis di leher.

Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, akan tetapi bisa juga menimpa pada orang dewasa. Diketemukan juga penyakit ini menyerang pada anjing dan memiliki tanda-tanda sama dengan manusia. Jadi, jika ada orang di rumah Anda yang didiagnosis menderita gondong, pastikan untuk menjauhkannya dari anjing keluarga.

4. Salmonellosis
Salmonellosis adalah penyakit yang timbul akibat infeksi bakteri Salmonella di dalam perut dan usus. Tanda-tanda infeksinya adalah mual, muntah, diare, demam, sakit kepala, dan kram perut.

Sebagian besar kasus Salmonella terkait dengan keracunan makanan, dimana hewan peliharaan bisa terpapar infeksi ini apabila makan makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella. Selain itu, interaksi manusia pada anjing atau kucing disinyalir juga bisa menyebabkan penularan penyakit ini diantara mereka.

Walaupun anjing dan kucing lebih tahan terhadap infeksi Salmonella, resiko penularan bakteri ini tidak bisa diabaikan. Kebersihan harus selalu dijaga agar hewan peliharaan tidak tertular bakteri gastro-intestinal (saluran pencernaan) manusia.

5. Giardiasis
Giardiasis adalah infeksi usus halus yang disebabkan oleh parasit giardia yang menyebabkan diare. Penyebaran parasit ini biasanya melalui air minum termasuk sumur, sungai dan danau. Infeksi parasit ini bisa menyerang manusia, kucing dan anjing, serta bisa saling menularkan diantara mereka.

6. MRSA
MRSA atau methicilin-resistant Staphylococcus aureus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus yang sudah tidak mempan lagi terhadap banyak jenis antibiotik. MRSA biasanya menyebabkan infeksi kulit, akan tetapi pada manusia bisa juga menyebabkan kondisi lain seperti pneumonia, infeksi di tempat pembedahan, dan septikemia.

MRSA dapat dibawa oleh manusia maupun oleh anjing, dengan transmisi atau penularan yang memungkinkan di kedua arah. Salah satu ciri MRSA pada anjing adalah infeksi bakteri yang menyebabkan luka pada anjing tidak sembuh-sembuh.

7. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular kronis yang utamanya disebabkan oleh kelompok bakteri Mycobacterium tuberculosis. TB dapat menyerang hampir semua mamalia berdarah panas, termasuk ternak, satwa liar, hewan peliharaan, dan manusia. 

Tanda-tanda penyakit pada hewan peliharaan diantara adalah batuk, penurunan berat badan, muncul benjolan, abses (benjolan berisi nanah dan kotoran) atau luka gigitan yang sulit sembuh.

Sebenarnya TB pada hewan terutama sapi disebabkan oleh Mycobacterium Bovis yang biasanya disebut TB sapi. Akan tetapi Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TB pada manusia, adalah bakteri yang dapat menyerang sebagian besar mamalia termasuk hewan peliharaan. Jadi, dimungkinkan pula TB pada manusia bisa juga menular pada hewan peliharaan.

8. Penyakit akibat menghirup asap tembakau
Penyakit akibat asap tembakau (rokok) memang tidak bisa secara langsung ditularkan oleh manusia pada hewan peliharaan. Akan tetapi asap rokok yang banyak mengandung zat berbahaya bisa saja menyebabkan gangguan kesehatan pada hewan akibat menghirup asap tersebut, layaknya manusia sebagai perokok pasif yang bisa terserang penyakit akibat terpapar asap beracun tersebut.

Semua jenis mamalia dimungkinkan bisa mendapatkan penularan penyakit dari manusia. Akan tetapi gorila dan simpanse adalah kelompok hewan yang paling rentan tertular penyakit dari manusia, seperti campak, pneumonia, influenza, serta berbagai infeksi virus, bakteri, dan parasit umum lainnya. Ini bisa dimaklumi karena mereka mempunyai susunan genetik dan fisiologis yang identik dengan manusia.

Pada kasus reverse zoonosis, gejala penyakit yang ada pada hewan yang tertular juga mirip dengan gejala yang terjadi pada manusia. Oleh sebab itulah apabila didapati gejala penyakit tertentu, baik pada pemilik maupun hewan peliharaan, sebaiknya cepat ditangani. Selain itu, apabila berinteraksi gunakanlah selalu pelindung (masker, sarung tangan) serta cuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah memegang hewan peliharaan. Semua ini bertujuan untuk mencegah penularan penyakit diantara keduanya.(gm/odj)