Memahami Zoonosis dan 10 Jenisnya yang Berada di Sekitar Kita

Memahami Zoonosis dan 10 Jenisnya yang Berada di Sekitar Kita

Dalam ilmu kesehatan, pengelompokan atau klasifikasi penyakit biasanya dilakukan dari berbagai faktor. Pengelompokan penyakit ini dibuat untuk tujuan mempermudah mempelajarinya dan juga penanganannya. Faktor pengelompokannya meliputi agen penyebab, patologi penyakit, organ yang terserang, cara pengobatan, cara penularan dan lain sebagainya.

Salah satu klasifikasi penyakit yang akan kita bahas adalah berdasarkan media penularannya yaitu zoonosis. Zoonosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh organisme infeksius seperti virus, bakteri, dan parasit yang dapat ditularkan dari hewan pada manusia atau juga sebaliknya.

Penyakit zoonosis perlu diwaspadai karena kemungkinan keberadaannya adalah disekitar kita. Ini tidak lepas dari keseharian manusia yang secara langsung atau tidak langsung selalu berinteraksi dengan binatang yang notabene berada di lingkungan manusia.

Kewaspadaan ini diperlukan karena tidak jarang penyakit zoonosis dapat menimbulkan kerugian pada masyarakat berupa gangguan kesehatan bahkan menyebabkan kematian.

Berikut merupakan 10 penyakit zoonosis yang mungkin berada disekitar kita, yang dilansir dari laman vetindonesia.com.

1. Leptospirosis
Daerah rawan banjir biasanya identik dengan lingkungan yang lembab, becek, dan sampah yang bertebaran. Daerah tersebut bisa menjadi tempat favorit tikus yang juga bisa menjadi pembawa bakteri Leptospira. Semula bakteri ini terdapat pada air kencing tikus, kemudian hujan mengakibatkan tanah lembab dan alkalis sehingga mempermudah Leptospira memperbanyak diri dan menyebar dengan cepat melalui air. Penyakit ini patut diwaspadai mengingat angka kematian mencapai 16,45% akibat Leptospirosis.

Manusia dapat terinfeksi Leptospira melalui kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung, juga air susu ibu (ASI). Gejala klinis Leptosirosis antara lain demam tinggi akut (berlangsung cepat), lelah otot, muntah darah, nyeri kepala, dan sakit tenggorokan. Pada fase lanjut, Leptosprirosis dapat menyebabkan hati dan limpa membengkak, jaundis (mukosa menguning), perikarditis (radang selaput pembungkus jantung), dan meningitits (radang selaput otak).

2. Hepatitis E
Hepatitis E disebabkan oleh infeksi virus hepatitis E (HEV). Pada umumnya penyakit tersebut muncul di daerah kurang air, minim sanitasi, dan rendah pelayanan kesehatan. Virus ini merupakan virus hepatitis yang cukup unik karena hewan merupakan reservoir penyakit HEV. HEV dapat bersirkulasi pada tubuh hewan mamalia seperti rusa dan babi tanpa menimbulkan gejala klinis. Infeksi HEV pada ayam dapat berkembang menjadi penyakit yang dikenal dengan nama Hepatitis-Splenomegaly syndrome. 

HEV genotype 1 dan 2 hanya bisa ditemukan di manusia sedangkan genotype 3 dan 4 bisa ditemukan baik di manusia maupun hewan. Manusia yang memiliki kontak dengan hewan yang terinfeksi HEV genotype 3 dan 4 memiliki resiko tinggi tertular penyakit Hepatitis E. Jika virus telah masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi usus, maka virus akan terus terus memperbanyak diri kemudian menyebabkan kegagalan akut pada fungsi liver sehingga mengakibatkan kematian. Gejala yang ditunjukkan penderita hepatitis E hampir sama dengan penderita hepatitis jenis lainnya, antara lain jaundice (kulit menguning, urin berwarna gelap, sering muntah, dan lain-lain).

3. Brucellosis
Bakteri penyebab penyakit ini dikenal dengan Brucella sp.. Kasus infeksi yang paling sering terjadi adalah karena memakan atau meminum produk peternakan yang masih mentah seperti susu, daging, dsb. Brucella sp. Juga dapat menginfeksi melalui inhalasi (pernapasan), kulit terluka, dan membran mukosa jika melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi Brucella sp. Pada ibu hamil infeksi ini dapat dapat menyebabkan keguguran.

Pada tahap awal, gejala yang nampak hampir sama seperti kejadian infeksi lainnya seperti demam, anorexia, nyeri otot, dan sakit kepala. Setelah sudah berlanjut, bakteri ini berpotensi mengakibatkan pembengkakan daerah skrotum, depresi, pembengkakan liver, jantung, dan organ-organ lainnya.

4.Tuberculosis
Zoonotic tuberculosis (TB) adalah tuberkulosis pada manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis. WHO menunjukkan terdapat delapan juta kasus TB per tahun, sebagian besar terjadi di negara berkembang.

Sapi adalah hewan yang berpotensi menularkan kepada manusia. TB pada sapi termasuk isu penting karena penularannya yang cepat dan mengakibatkan dampak cukup serius di bidang ekonomi. Sebagai contoh, penghasilan peternak akan menurun drastis jika susu dan daging sapi mengandung bakteri TB. Sedang kerugian pada kesehatan ialah penderita harus melakukan terapi dengan antibiotik cukup lama, yaitu antara enam bulan bahkan lebih, tergantung pada tingkat keparahan infeksi.

5.Ringworm (kurap)
Penyakit ini muncul karena infeksi jamur kapang bergenus Mycrosporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Kulit yang terinfeksi akan berubah bentuk membentuk zona lingkaran berbatas jelas di permukaan kulit. Semakin digaruk, kulit yang terinfeksi ringworm akan terasa semakin gatal dan area infeksi semakin lebar.

Biasanya penyakit ini ditularkan oleh hewan peliharaan seperti kucing dan anjing yang menderita ringworm ke manusia karena kontak langsung dengan kulit. Pada kucing dan anjing yang terinfeksi ringworm biasanya di lokasi tumbuhnya jamur (zona lingkaran) akan terasa gatal sehingga mereka menggaruk-garuk hingga membentuk kebotakan.

6. Penyakit Cat-Scratches
Bartonellosis, juga dikenal sebagai cat-scratch disease, merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Bartonella sp. Diperkirakan 40% kucing, khususnya yang berusia kurang dari 1 tahun menjadi carrier(pembawa) bakteri ini, meskipun tidak selalu menunjukkan gejala klinis. Jika tergigit kucing pembawa Bartonella sp. maka gejala yang akan timbul antara lain demam, sakit kepala, lemas, di beberapa kasus juga menyebabkan bengkak dan nyeri pada limfo nodus.

7. Taeniasis/ Cysticercosis
Taeniasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing Taenia solium (pada babi), Taenia saginata (pada sapi), dan Taenia asiatica. Manusia dapat tertular jika mengkonsumsi daging setengah matang dari hewan yang terinfeksi cacing tersebut.

Telur cacing yang tertelan juga dapat berkembang menjadi larva (cysticerci) di dalam otot, mata, kulit, dan sistem saraf pusat manusia. Jika berkembang di dalam otak, akan mengakibatkan neurocysticercosis sehingga timbul sakit kepala yang hebat, kejang, bahkan kebutaan. Gejala lainnya antara lain nyeri perut, diare, konstipasi jika jumlah cacing yang berkembang biak di usus sangat banyak.

8. Antraks
Penyakit ini merupakan  serius yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Manusia dapat tertular melalui 3 cara yaitu: kontak langsung terutama saat kulit terluka, melalui pernapasan, dan melaui pencernaan.

Yang paling membahyakan dari bakteri antraks adalah spora yang dihasilkan. Spora Bacillus anthracis dapat tahan pada suhu tinggi maupun rendah dan dapat bertahan lebih dari 20 tahun. Spora yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami germinasi untuk menjadi bentuk vegetatif, kemudian dapat memperbanyak diri sehingga berakibat fatal pagi penderitanya.

9. Rabies
Rabies merupakan penyakit yang kerap muncul setelah mengalami gigitan anjing yang terinfeksi virus rabies. Kucing, monyet, dan hewan liar lainnya juga bisa menjadi perantara (vektor) dari penyakit ini. 

Bahaya dari virus ini adalah dapat menyerang otak dan sistem syaraf, sehingga penderita akan rabies menunjukkan gejala klinis berupa hidrofobia (takut air), gatal di bekas gigitan, demam, dan agresif. Gejala klinis hewan yang menderita rabies hampir sama dengan manusia, hanya saja tidak disertai hidrofobia.

10. Toxoplasmosis
Seringkali penyakit yang disebabkan parasit Toxoplasma gondii ini menjangkit penderitanya tanpa menunjukkan gejala klinis. Penderita akan menunjukkan gejala jika infeksi sudah parah.  Parasit Toxoplasma gondii dapat berkembang biak pada kucing, kemudian parasit menyebar ke lingkungan melalui kotorannya. Toxoplasma gondii dapat bertahan di air dan tanah lembab hingga berbulan-bulaan.

Pada umumnya kejadian penularan dikarenakan gaya hidup yang kurang sehat seperti tidak mencuci sayuran sebelum makan, memakan daging mentah atau setengah matang, dan meminum susu mentah dari hewan yang terinfeksi Toxoplasma gondii.

Berdasarkan pemaparan diatas, ada beberapa macam zoonosis yang bisa ditularkan oleh hewan peliharaan pada umumnya, semisal kucing atau anjing. Kebersihan kandang hewan peliharaan mutlak diperlukan untuk mencegahnya menjadi sarang penyakit. Pemberian disinfektan juga diperlukan untuk menjaganya tetap higienis.

Kita bisa menggunakan Biosepty untuk menjaga kehigienisan kandang. Biosepty adalah disinfektan alami yang berfungi untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran jasad renik seperti  bakteri dan virus, juga untuk membunuh mikroorganisme atau kuman lainya penyebab penyakit pada hewan. Selain itu, Biosepty juga mampu menetralisir bau kantoran hewan dan bangkai.

Pemberian vaksin pada hewan pemeliharaan juga sangat berguna untuk mencegah penyebaran zoonosis tersebut. Adanya zoonosis bukan berarti harus takut untuk memelihara hewan. Dengan menjaga kebersihan diri dan penanganan yang tepat pada hewan, akan meminimalisir keberadaan zoonosis tersebut.(gm/odj)