9 Jenis Gangguan Kulit dan Penyebabnya pada Kelinci

9 Jenis Gangguan Kulit dan Penyebabnya pada Kelinci

Dalam pemeliharaan kelinci, ancaman penyakit adalah ancaman terbesar yang mengganggu kelangsungan hidup kelinci. Salah satunya adalah penyakit yang menyerang pada kulit kelinci.

Kulit kelinci merupakan jendela untuk kesehatan umum mereka. Penyakit kulit yang ada pada kelinci bisa berupa gangguan sederhana, seperti iritasi ringan hingga yang mengancam jiwa. Beberapa jenisnya juga dapat menular ke spesies lain, termasuk manusia. Perawatan yang tepat sangat diperlukan, selain untuk kesembuhan kelinci, juga mengembalikan kelinci pada keceriaannya.

Berikut beberapa jenis penyakit kulit dan penyebab timbulnya pada kelinci.

1.Alopecia 
Alopecia merupakan istilah medis yang menggambarkan suatu kondisi terjadinya kehilangan rambut/bulu pada hewan. 

Kehilangan bulu pada kelinci tanpa disertai lesi (perubahan fisik, terutama  kulit karena penyakit atau luka) bisa saja terjadi. Pada beberapa kasus, ini bisa disebabkan masalah hormon pada kelinci. Kelinci betina yang akan melahirkan biasanya mencabuti bulunya di daerah leher atau dewlapnya, perut, dan juga kaki. Ini dilakukan untuk melapisi sarang mereka.

Stress pada kelinci juga bisa menyebabkan mereka mengunyah (mencabuti) bulu mereka sendiri atau bulu kelinci lain. Keadaan ini sering terjadi pada kelinci yang ditempatkan pada satu tempat dalam jumlah banyak, sehingga sering menyebabkan pertengkaran. Kerontokan bulu kelinci bisa terlihat pada bekas gigitan atau cidera lainnya.

Pada beberapa kasus diatas, bulu kelinci akan tumbuh kembali dalam beberapa bulan, kecuali terdapat jaringan parut yang luas dan kerusakan yang dalam pada kulit kelinci.

2. Scabies (kudis/gudik)
Scabies adalah penyakit kulit berupa iritasi yang disebabkan oleh parasit sejenis kutu yang biasa disebut tungau scabies atau sarcoptes. Jenis penyakit ini tidak hanya menyerang hewan saja, seperti kucing, anjing dan kelinci, akan tetapi juga bisa menyerang dan menular pada manusia.

Scabies adalah sejenis kutu yang ukurannya mikroskopik. Mereka bersarang di bawah lapisan kulit sehingga menyebabkan gatal. Kelinci yang terjangkit akan sering menggaruk bagian yang terjangkit karena respon rasa gatal tersebut. Pada umumnya scabies berada pada daerah telinga, kaki atau hidung kelinci. Kelinci akan terus menggaruk daerah terinfeksi sampai bagian tersebut luka bahkan robek.

Terdapatnya kerak seperti ketombe merupakan ciri adanya scabies. Apabila kaki kelinci yang terkena, biasanya disertai pembengkakan yang menyebabkan kuku seperti akan copot. Demikian juga pada telinga, akan terlihat tercabik-cabik pada bagian pinggirnya. Seiring bertambah parahnya penyakit, kelinci akan hilang nafsu makannya dan akhirnya bisa berdampak pada kematian.

Untuk pencegahannya, harus selalu dijaga kebersihan kandang dan jaga kandang agar tidak lembab. Sedangkan untuk pengobatan scabies kita bisa menggunakan biodin.

Biodin adalah obat penyakit kulit dari bahan alami food grade, jadi aman apabila terjilat oleh kelinci. Biodin ampuh untuk mengobati luka dan penyakit kulit seperti scabies, kurap, borok ataupun ganguan kulit lain akibat kutu dan tungau. Biodin juga bisa digunakan sebagai antiseptik bagi hewan.

3. Tungau telinga
Selain tungau scabies, telinga kelinci juga bisa terjangkiti tungau parasit, yang dikenal sebagai psoroptes cuniculi. Telinga kelinci adalah organ yang sensitif. Jika ada penumpukan kotoran di dalamnya, tungau dan bakteri bisa berkembang biak dengan baik.

Pada tahap awal, penyakit ini mungkin tidak begitu serius. Tetapi jika tidak ditangani dapat menyebabkan infeksi sekunder yang menyebar ke telinga tengah dan dalam. Selain itu, tungau juga dapat meninggalkan telinga kelinci dan memperluas populasi mereka ke tubuh kelinci yang lain seperti kepala, leher, perut, daerah di sekitar anus, alat kelamin dan cakar. Akibatnya, akan timbul rasa gatal yang kuat secara umum, kemerahan pada kulit, rambut rontok pasca trauma, pembentukan ulkus dan dermatitis.

Untuk pengobatannya sama dengan scabies. Kita bisa menggunakan biodin yang merupakan obat penyakit kulit pada hewan.

4. Kutu 
Kutu juga bisa menyebabkan gangguan pada kulit kelinci. Kutu dapat menyebabkan bulu rontok, kemerahan, kerak kecil, dan gatal-gatal. Kebersihan kandang yang kurang terjaga adalah faktor umum berkembangnya kutu.

5. Wetness Kronis
Kelembaban parah pada lingkungan atau kandang kelinci juga akan menimbulkan masalah pada kelinci. Kebotakan kulit, kemerahan, pengerasan kulit bahkan infeksi bakteri mungkin saja timbul akibat kondisi ini.

Sumber kelembaban bisa dari lingkungan sekitar kelinci. Seperti kebocoran dari hujan, pembuangan air sembarangan ataupun faktor lain. Bisa juga berasal dari kelinci sendiri seperti urin atau fesesnya.

Infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa sangat mungkin terjadi pada kondisi lembab. Ini bisa menyebabkan dermatitis dengan ciri perubahan kebiru-biruan pada kulit kelinci.

6. Pododermatitis 
Pododermatitis adalah peradangan dan infeksi pada jaringan di antara kuku dan lingkaran tumit kaki. Pododermatitis paling sering terlihat pada kelinci yang bertempat di kawat atau permukaan kasar dan keras lainnya, akan tetapi ini juga bisa terjadi pada kelinci yang tidak di kandang. Breed bertubuh berat, kelinci obesitas, dan kelinci yang memiliki bulu tipis di bagian bawah kakinya cenderung mengalami masalah ini.

Sore hocks atau pododermatitis mengakibatkan terkelupasnya bulu kelinci terutama di bagian telapak kakinya. Gejala awal dari penyakit ini yaitu bulu di telapak kaki kelinci menipis sampai akhirnya terkelupas disertai perlukaan.

Dalam kasus ringan, memberikan permukaan yang lunak, membersihkan bagian bawah kaki, dan menggunakan pembalut empuk selama 1-2 minggu akan membantu efek penyembuhannya.

7. Kurap (ringworm)
Kurap disebabkan oleh infeksi jamur yang menyebabkan lesi merah melingkar dengan berkerak pada bagian dalamnya. Kurap paling sering terjadi pada kepala, telinga, dan wajah kelinci. Ini menyebabkan gatal sehingga kelinci akan menggaruknya sampai bisa menimbulkan luka.

8. Sifilis kelinci 
Sifilis kelinci disebabkan oleh infeksi bakteri spirochete yaitu treponema cuniculi. Hal ini menyebabkan dermatitis berkerak terutama di sekitar alat kelamin atau hidung kelinci. Pada kasus yang parah dapat meluas ke atas pada wajah dan di sekitar mata.

Penularan secara langsung bisa terjadi ketika kelinci kawin, atau tidak langsung melalui susu dari induk yang terinfeksi pada keturunannya. Penyakit ini bukan zoonosis, artinya tidak dapat ditularkan dari kelinci ke hewan lain (selain kelinci) dan manusia.

9. Benjolan di kulit
Abses adalah pembengkakan kulit yang paling umum pada kelinci. Abses merupakan sekumpulan nanah yang terkumpul di satu titik pada bagian tubuh tertentu, mirip seperti bisul. Hampir semua abses menyebabkan peradangan dan pembengkakan di daerah sekitarnya.

Abses adalah reaksi alami tubuh akibat adanya perlawanan dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu infeksi yang menyerang jaringan tertentu. Untuk mengatasinya bisa dilakukan operasi oleh dokter hewan atau pemberian resep tertentu seperti antibiotik.

Penyakit kulit pada kelinci yang disebutkan diatas adalah yang umum terjadi pada kelinci. Pada kasus tertentu mungkin saja bisa timbul jenis gangguan kulit yang lain. Kebersihan kelinci dan juga lingkungannya (kandang) adalah hal yang utama untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit kulit dan juga penularannya.(gm/odj)